Wednesday, April 15, 2015

Kunci Rahasia Ketuhanan, Iblis dan Ifrit hingga 40 Juz al-Qur’an

Kunci Rahasia Ketuhanan, Iblis dan Ifrit hingga 40 Juz al-Qur’an
Judul Buku : Kunci Rahasia Ketuhanan, Iblis dan Ifrit hingga 40 Juz al-Qur’an
Penulis : Muchammad Hormus
Harga : Rp. 63.000,-
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama), Januari 2010
Tebal : xiv + 204 halaman
Salah satu ciri fenomena yang paling menonjol dakam perkembangan kehidupan modern dan serba sekuleristik ini ialah bangkitnya dimensi spriritualitas. Bangkitnya spiritualitas ditandai dengan semakin marak dan berkembangnya pengkajian dan diskusi seputar tasawuf dan “tarekat” tidak hanya di pesantren-pesantren atau lembaga keagamaan, tetapi juga di wilayah perkotaan.
Konon, menurut para sejarawan Islam, kemunculan tasawuf merupakan respons terhadap gemerlapnya dunia yang sangat berlebihan. Pada saat itu Islam memuncaki kejayaannya, sehingga kekayaan melimpah, dan kemewahan menjadi tak terkendali. Namun, dalam perkembangannya,
tasawuf juga dianggap sebagai biangnya kemunduran umat Islam. Konsep-konsep tasawuf seperti zuhud, khalwat, wira’i dan riyadhoh tidak lain adalah konsep-konsep yang anti-dunia, yang membawa pelakunya berasyik-masyuk dengan dirinya sendiri, Tuhannya dan melupakan kehidupan sosial kemasyarakatan disekitarnya. Tasawuf kemudian diidentikkan dengan kemiskinan, kelusuhan, dan bahkan kekotoran. Orang takut belajar tasawuf karena kuatir menjadi miskin. Padahal, kemiskinan yang disamakan dengan kesalihan berasal dari kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan hadis. Pemahaman sufisme yang parsial dan sempit ataupun kekelruan praktek ajaran-ajaran yang disalahfami, kerapkali menjadi pemicu pemahamn yang tidak tepat terhadap dunia sufistik.
Pada titik inilah, Muhammad Hormus; seorang Mursyid Thoriqoh Syadziliyyah Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang menggeluti dunia tasawuf sejak masa muda melalui buku Kunci Rahasia Ketuhanan,menjadi bacaan alternatif bagi pembaca yang ingin menekuni dunia sufi. Pengalaman otentik penulis dan renungan-renungannya yang mendalam, membuat tulisan esai-esainya terasa begitu mengalir dan reflektif. Dalam uraian-uraiannya, seorang sufi sejati, tidak hanya peduli pada “keselamatan” pribadi, tetapi juga berpartisipasi mengentaskan dan berperan aktif di lingkungan masyarakatnya (hlm. vi). Sebab, sufi sejati adalah mereka yang mampu mengaplikasikan perjalanan ruhani yang meng-Allah, yang aktualisasinya merupakan pengabdian diri kepada seluruh umat manusia seumur hidup. Pengabdian diri kepada seluruh umat inilah yang dilandasi dengan cinta (hubb). Cinta seorang sufi kepada seluruh umat manusia itu melampaui batas-batas kemanusiaan, nasionalitas, etnis, ras, suku, ideologi, golongan, budaya, dan bahkan agama.
Yang Berminat Pemesanan bisa sms ke
Cp : 081804281351 / 085713733627, / 08122779457, Pin BB 52899683